Senin, 16 Agustus 2010

Esok Hari

Kawanan lebah
Terbang bersama
Tak pernah
Aku mengira

Lempar kemenyan
Ke laut biru
Hanya dengan
Mengingat senyumu

Ramalan Jayabaya
Tentang Kediri
Diriku bisa
Sebahagia ini

Megahnya kubah
Kota Istanbul
Pikiran indah
Seketika muncul

Ahli pedang
Dari Madura
Ketika terbayang
Kita kan bersama

Raja buaya
Nikahi ratu hiu
Namun satu tanya
Hadir dalam khayalku

Pohon kamboja
Di tanah gersang
Untuk apa
Kau tahu sekarang

Kabut ungu
Tepi pantai Bali
Tentang perasaanku
Kepadamu selama ini

Tak perlulah ibu peri
Tuk keajaiban bisa terjadi
Terlalu banyak janji
Tak mampu ku tepati

Motif batik
Dua anak berdiri
Lebih baik
Seperti ini

Putih pesona
Warna melati
Apa salahnya
Tetap begini

Musisi dulu
Bermain rebab
Biarlah waktu
Yang kan menjawab

Mahkota raja
Batu Merapi
Dengan siapa
Kita nanti

Selasa, 06 Juli 2010

Kehilangan dan Meliliki

Kota Samarinda
Pabrik kain
Apakah bila
Dia bersama yang lain

Pulau Bali
Pulau Jawa
Akankah berarti
Ku tlah kehilangan dia

Raja singa
Di tanah Afrika
Apakah bila
Ku bersama dia

Burung kenari
Hinggap di jendela
Akankah berarti
Ku tlah miliki dia

Terbang ke kahyangan
Bertemu bidadari
Arti kehilangan
Dan makna memiliki

Langit biru
Di atas sura
Seakan tabu
Di mata mereka

Induk gajah
Menginjak batu
Di tangan siapakah
Kebenaran itu

Barisan pegunungan
Di tanah Sulawesi
Karena setiap insan
Miliki kebenarannya sendiri

Pohon kamboja
Di samping gapura
Dalam dunia
Yang serba fana

Penyanyi dunia
Bersuara serak
Akankah ada
Sebuah kebenaran mutlak

Bingkai lukisan
Di atas meja
Satu jawaban
Atas sejuta tanya

Kota Jepara
Asal ibu Kartini
Mengapa ada cinta
Tapi ada benci

Hijau persawahan
Dari atas perbukitan
Mengapa ada perjumpaan
Tapi ada perpisahan

Merah keunguan
Warna flamboyan
Mengapa ada harapan
Tapi ada penyesalan

Antara akhirat dan dunia
Antara surga dan neraka
Siapa mengapa bagaimana
Akankah ada jawabannya

Gerombolan pari
Di selat Bali
Dunia ini
Bagai meja judi

Mengejar kejayaan
Di ambang kematian
Tak ada kesempurnaan
Tak ada kepastian

Album kenangan
Tentang percintaan
Hanya ada peruntungan
Di atas kemustahilan

Naik kapal
Menjaring teri
Tak segala hal
Di dunia ini

Kuning kehijauan
Pesona Indonesia
Sanggup dijelaskan
Dalam permainan kata

Kota Muntilan
Kota pramuka
Banyak pertanyaan
Tak kan ada jawabannya

Welcome to Our Ramadhan

Pohon berduri
Kabut sutra ungu
Baru ku sadari
Setahun telah berlalu

Kota Purwodadi
Kota kenangan
Mungkin menjadi
Tahun tak terlupakan

Petir menyambar
diatas kota Pati
Tanpa sadar
Ramadhan datang lagi

Toku buku
pedagang batik
Apa aku
sudah lebih baik

Warung soto
Soto kaki
Atau kulo
orang yang merugi

Desa Srumbung
Di hari Kamis
Saat ku termenung
Rintihan hati menangis

Wajah rupawan
Kanan-kiri
Apa yang sudah ku lakukan
Setahun ini

Pabrik roti
Toko kawat
Selama ini
Ku pikir aku hebat

Panggung Jakarta
Aula Surabaya
Tapi ternyata
ku bukan siapa-siapa

Ariel berdendang
memuja Luna maya
hanya sebatas kacang
yang lupa kulitnya

Bondan Feat Bunga
Glenn Feat Dewi Sandra
Semakin panjang usia
apa ku orang tersia-sia

Parfum kamar
Tembang rasta
Aku bukan Chairil Anwar
Bukan pula Obama

Taman bunga
Pohon kejora
Aku hanya Reza
Reza apa adanya

Masjid Al Amin
Samping taman
Dan ku yakin
kalian tetap kalian

Orang mesum
Kurang kerjaan
Ayo kita tersenyum
Menyambut Ramadhan

Bunga kota
Kota bunga
Walau senyum kita
tak seindah surya

Legenda taman
babilonia
Jernihkan pikiran
Hati bersih berpuasa

BBF (Bosan Buat Fantun)

Punya teman
Badannya tambun
Aku bosan
Buat pantun

Pulau Bali
Turis memburu
Aneh sekali
Jaman gini gitu

Di kali
Banyak orang tua
Tetapi
Entah kenapa

Buang sampah
Di kota Kediri
Kok malah
Jadi pantun lagi

Bank Mandiri
Di kota Kendari
Pantun lagi
Pantun lagi

Makan pati
Tuk buka puasa
Baru ku sadari
Setelah sekian lama

Beli kawat
Di toko Jaya
Ternyata ku berbakat
Ha ha ha ha ha

Makan blewah
Rasanya nikmat
Tak apalah
Mungkin ada minat

Kota Surabaya
Kota Kediri
Mungkin saja
Esok nanti

Pabrik gula
Pabrik kopi
Ada nama-nama
Seperti ini

Pergi ke mushola
Ketemu Somad
Mungkin saja
Ada Chairil Ahmad

Pulau Madura
Pulau Sulawesi
Mungkin saja
Ada W.S Rizaqi

Monster rawa
Makan buaya
Mungkin saja
Ada Ahmad Hirata

Makan bolu
Sama istri
Mimpiku
Indah sekali

Kota Samarinda
Kota Surakarta
Ayo kita tertawa
Wakakakaka

Bukan Diriku

Daging asap
Dari pengepul
Sisi gelap
Diriku muncul

Sayur-sayuran
Dijadikan lalap
Ketika kebusukan
Dunia terungkap

Perang puputan
Di tanah Bali
Ya Tuhan
Apa yang terjadi

Hari buruh
Di Januari
Hati telah keruh
Seperti ini

Kawanan pari
Di laut Aru
Iblis ini
Gerogoti jiwaku

Ayam cemani
Di bawah pohon duku
Pelan tapi pasti
Hatiku telah kelabu

Kantor perikanan
Di kota Kedu
Ini bukan
Diriku yang dulu

Di taman
Ada kumpulan kerbau
Ini bukan
Diriku yang ku mau

Pergi ke lautan
Memburu penyu
Ya Tuhan
Tolonglah aku

Ke selat Bali
Memancing hiu
Jauhkan iblis ini
Dari hatiku

Di Jayapura
Banyak ragam suku
Jangan biarkan dia
Kuasa atas hatiku

Ke kota Delhi
Cari kobra mati
Baru ku sadari
Dia tampakan diri

Kain sutra ungu
Di samping tugu
Dia hitamkan hatiku
Dia gelapkan mataku

Dalam perjalanan
Bertemu ibu
Ya Tuhan
Satu pintaku

Membawa peti
Berisi harta
Bila terus begini
Hanya kan sakiti mereka

Jurang Arizona
Tiada bertepi
Mereka yang di sana
Mereka yang sangat berarti

Biji mangga
Biji blewah
Sebelum semua
Terlambat sudah

Puncak Jayawijaya
Di tanah Papua
Musnahkanlah dia
Sirnakanlah dia

Pabrik tahu
Di kota Kedu
Tolonglah aku
Jernihkan hatiku

Tanah pedalaman
Di pulau Maluku
Ya Tuhan
Beri aku waktu

Naik heli
Sebrangi samudra
Sekali lagi
Tuk ubah segalanya

Rhoma Irama
Manggung di Surabaya
Demi mereka
Yang sangat ku cinta

Kota Bekasih
Tempo dulu
Aku ingin putih
Seperti dulu

Untuk Sahabatku Yang Jauh Di sana

Pasang jerat
Di pantai berbatu
Wahai sahabat
Apa kabarmu

Kulit kerbau
Dijahit baju
Bahagiakah kau
Di hidup yang baru

Bangun surau
Di samping gapura
Meski engkau
Telah jauh di sana

Sang perantau
Dari tanah Jawa
Ku harap kau
Baik-baik saja

Kota Minahasa
Di Pulau Sulawesi
Andai kita
Dipertemukan lagi

Daun lebar
Pohon mahoni
Ku ingin dengar
Tawamu lagi

Bulu pekat
Ayam cemani
Ku ingin lihat
Senyumu lagi

Seni pahat batu
Dari Bengkulu
Sangat ku rindu
Akan omelanmu

Tali kawat
Menyusun tugu
Yang membuat
Merah kupingku

Di selat Bali
Ada kawanan hiu
Sangat kunanti
Akan nasehatmu

Atlet angkat berat
Sedang berlaga
Yang membuat
Hati setenang samudra

Suku Asmat
Di Jayapura
Wahai sahabat
Kau jauh di sana

Cahaya silau
Bintang biru
Dapatkah kau
Dengar seruanku

Sawah hijau
Sarang berudu
Sanggupkah kau
Rasakan kerinduanku

Kota Kedu
Kota Pati
Ku ingin bertemu
Sekali lagi

Patih Kediri
Orangnya besi
Sekali lagi
Melihat wajahmu

Ikan pari
Laut nan biru
Sekali lagi
Mendengar marahmu

Masakan Padang
Khas sekali
Bila sekarang
Kau ada di sini

Sang pangeran
Terbang ke kahyangan
Apakah yang kan
Engkau katakan

Batik Krakatau
Warnanya ungu
Akankah kau
Menertawaiku

Raja hebat
Bermahkota batu
Seperti saat
Terakhir bertemu

Peternak Madu
Di kota baru
Bila ku mampu
Kembalikan waktu

Keindahan taman
Dari Semeru
Ku ingin katakan
Satu hal padamu

Pari manta
Ketemu penyu
Ku sangat bahagia
Bersahabat denganmu

Kamis, 24 Juni 2010

Kembalinya Sang Pangeran

Di taman bunga
Ada burung alap-alap
Telah lama
Kau tertidur lelap

Angin membelai
Daun pohon duku
Kau terbuai
Dalam mimpi indahmu

Kolam pariaman
Sarang Berudu
Ayo Pangeran
Buka matamu

Pengrajin guci
Di kota baru
Bangunlah dari
Mimpi indahmu

Pesta prasmanan
Di tanah Maluku
Berdiri Pangeran
Tunjukan pedangmu

Laut Hindia
Dekat pulau Jawa
Tunjukan pada dunia
Kau masih ada

Pawang kuda
Ketemu buaya
Katakan pada dunia
Kau kan taklukan dunia

Tanah kejayaan
Pantai Amerika
Bangkit Pangeran
Hadapi dunia

Jalan kenangan
Di tepi persawahan
Inilah kenyataan
Inilah kehidupan

Mie rebus
Dari Pakistan
Dunia yang harus
Engkau taklukan

Gorila kesurupan
Baca note ku
Sadar Pangeran
Buka hatimu

Dipanggil gorila
Dia malah tertawa
Kau tak bisa
Bermimpi selamanya

Dia protes padaku
Dipanggil gorila
Waktumu
Telah tiba

Kopi tubruk
Kopi Jawa
Waktu untuk
Merubah segalanya

Dari Padang
Sampai Batanghari
Medan perang
Telah menanti

Tambang intan
Di Jayapura
Semangat Pangeran
Dengan jiwa membara

Peri kahyangan
Turun ke lautan
Inilah peperangan
Yang harus kau menangkan

Di pegunungan
Jalannya berliku
Cepat Pangeran
Angkat jangkar itu

Pohon belantara
Banyak pohon rubuh
Sudah cukup lama
Kapalmu berlabuh

Kota Toraja
Tanah yang sepi
Sudah saatnya
Layar terkembang kembali

Teratai berdaun lebar
Layu ditelan waktu
Saatnya kembali berlayar
Arungi samudra biru

Pohon mahoni
Pohon kapas
Samudra ini
Masih sangat luas

Harum semerbak
Parfum Cibaduyut
Masih banyak
Ikan di laut

Sebuah lukisan
Tentang motif batik
Tersenyumlah Pangeran
Itu kan lebih baik

Ladang tandus
Di bawah langit biru
Impianmu kan hapus
Sakit di masa lalu