Kawanan lebah
Terbang bersama
Tak pernah
Aku mengira
Lempar kemenyan
Ke laut biru
Hanya dengan
Mengingat senyumu
Ramalan Jayabaya
Tentang Kediri
Diriku bisa
Sebahagia ini
Megahnya kubah
Kota Istanbul
Pikiran indah
Seketika muncul
Ahli pedang
Dari Madura
Ketika terbayang
Kita kan bersama
Raja buaya
Nikahi ratu hiu
Namun satu tanya
Hadir dalam khayalku
Pohon kamboja
Di tanah gersang
Untuk apa
Kau tahu sekarang
Kabut ungu
Tepi pantai Bali
Tentang perasaanku
Kepadamu selama ini
Tak perlulah ibu peri
Tuk keajaiban bisa terjadi
Terlalu banyak janji
Tak mampu ku tepati
Motif batik
Dua anak berdiri
Lebih baik
Seperti ini
Putih pesona
Warna melati
Apa salahnya
Tetap begini
Musisi dulu
Bermain rebab
Biarlah waktu
Yang kan menjawab
Mahkota raja
Batu Merapi
Dengan siapa
Kita nanti
Kembalinya Sang Pangeran
Senin, 16 Agustus 2010
Selasa, 06 Juli 2010
Kehilangan dan Meliliki
Kota Samarinda
Pabrik kain
Apakah bila
Dia bersama yang lain
Pulau Bali
Pulau Jawa
Akankah berarti
Ku tlah kehilangan dia
Raja singa
Di tanah Afrika
Apakah bila
Ku bersama dia
Burung kenari
Hinggap di jendela
Akankah berarti
Ku tlah miliki dia
Terbang ke kahyangan
Bertemu bidadari
Arti kehilangan
Dan makna memiliki
Langit biru
Di atas sura
Seakan tabu
Di mata mereka
Induk gajah
Menginjak batu
Di tangan siapakah
Kebenaran itu
Barisan pegunungan
Di tanah Sulawesi
Karena setiap insan
Miliki kebenarannya sendiri
Pohon kamboja
Di samping gapura
Dalam dunia
Yang serba fana
Penyanyi dunia
Bersuara serak
Akankah ada
Sebuah kebenaran mutlak
Bingkai lukisan
Di atas meja
Satu jawaban
Atas sejuta tanya
Kota Jepara
Asal ibu Kartini
Mengapa ada cinta
Tapi ada benci
Hijau persawahan
Dari atas perbukitan
Mengapa ada perjumpaan
Tapi ada perpisahan
Merah keunguan
Warna flamboyan
Mengapa ada harapan
Tapi ada penyesalan
Antara akhirat dan dunia
Antara surga dan neraka
Siapa mengapa bagaimana
Akankah ada jawabannya
Gerombolan pari
Di selat Bali
Dunia ini
Bagai meja judi
Mengejar kejayaan
Di ambang kematian
Tak ada kesempurnaan
Tak ada kepastian
Album kenangan
Tentang percintaan
Hanya ada peruntungan
Di atas kemustahilan
Naik kapal
Menjaring teri
Tak segala hal
Di dunia ini
Kuning kehijauan
Pesona Indonesia
Sanggup dijelaskan
Dalam permainan kata
Kota Muntilan
Kota pramuka
Banyak pertanyaan
Tak kan ada jawabannya
Pabrik kain
Apakah bila
Dia bersama yang lain
Pulau Bali
Pulau Jawa
Akankah berarti
Ku tlah kehilangan dia
Raja singa
Di tanah Afrika
Apakah bila
Ku bersama dia
Burung kenari
Hinggap di jendela
Akankah berarti
Ku tlah miliki dia
Terbang ke kahyangan
Bertemu bidadari
Arti kehilangan
Dan makna memiliki
Langit biru
Di atas sura
Seakan tabu
Di mata mereka
Induk gajah
Menginjak batu
Di tangan siapakah
Kebenaran itu
Barisan pegunungan
Di tanah Sulawesi
Karena setiap insan
Miliki kebenarannya sendiri
Pohon kamboja
Di samping gapura
Dalam dunia
Yang serba fana
Penyanyi dunia
Bersuara serak
Akankah ada
Sebuah kebenaran mutlak
Bingkai lukisan
Di atas meja
Satu jawaban
Atas sejuta tanya
Kota Jepara
Asal ibu Kartini
Mengapa ada cinta
Tapi ada benci
Hijau persawahan
Dari atas perbukitan
Mengapa ada perjumpaan
Tapi ada perpisahan
Merah keunguan
Warna flamboyan
Mengapa ada harapan
Tapi ada penyesalan
Antara akhirat dan dunia
Antara surga dan neraka
Siapa mengapa bagaimana
Akankah ada jawabannya
Gerombolan pari
Di selat Bali
Dunia ini
Bagai meja judi
Mengejar kejayaan
Di ambang kematian
Tak ada kesempurnaan
Tak ada kepastian
Album kenangan
Tentang percintaan
Hanya ada peruntungan
Di atas kemustahilan
Naik kapal
Menjaring teri
Tak segala hal
Di dunia ini
Kuning kehijauan
Pesona Indonesia
Sanggup dijelaskan
Dalam permainan kata
Kota Muntilan
Kota pramuka
Banyak pertanyaan
Tak kan ada jawabannya
Welcome to Our Ramadhan
Pohon berduri
Kabut sutra ungu
Baru ku sadari
Setahun telah berlalu
Kota Purwodadi
Kota kenangan
Mungkin menjadi
Tahun tak terlupakan
Petir menyambar
diatas kota Pati
Tanpa sadar
Ramadhan datang lagi
Toku buku
pedagang batik
Apa aku
sudah lebih baik
Warung soto
Soto kaki
Atau kulo
orang yang merugi
Desa Srumbung
Di hari Kamis
Saat ku termenung
Rintihan hati menangis
Wajah rupawan
Kanan-kiri
Apa yang sudah ku lakukan
Setahun ini
Pabrik roti
Toko kawat
Selama ini
Ku pikir aku hebat
Panggung Jakarta
Aula Surabaya
Tapi ternyata
ku bukan siapa-siapa
Ariel berdendang
memuja Luna maya
hanya sebatas kacang
yang lupa kulitnya
Bondan Feat Bunga
Glenn Feat Dewi Sandra
Semakin panjang usia
apa ku orang tersia-sia
Parfum kamar
Tembang rasta
Aku bukan Chairil Anwar
Bukan pula Obama
Taman bunga
Pohon kejora
Aku hanya Reza
Reza apa adanya
Masjid Al Amin
Samping taman
Dan ku yakin
kalian tetap kalian
Orang mesum
Kurang kerjaan
Ayo kita tersenyum
Menyambut Ramadhan
Bunga kota
Kota bunga
Walau senyum kita
tak seindah surya
Legenda taman
babilonia
Jernihkan pikiran
Hati bersih berpuasa
Kabut sutra ungu
Baru ku sadari
Setahun telah berlalu
Kota Purwodadi
Kota kenangan
Mungkin menjadi
Tahun tak terlupakan
Petir menyambar
diatas kota Pati
Tanpa sadar
Ramadhan datang lagi
Toku buku
pedagang batik
Apa aku
sudah lebih baik
Warung soto
Soto kaki
Atau kulo
orang yang merugi
Desa Srumbung
Di hari Kamis
Saat ku termenung
Rintihan hati menangis
Wajah rupawan
Kanan-kiri
Apa yang sudah ku lakukan
Setahun ini
Pabrik roti
Toko kawat
Selama ini
Ku pikir aku hebat
Panggung Jakarta
Aula Surabaya
Tapi ternyata
ku bukan siapa-siapa
Ariel berdendang
memuja Luna maya
hanya sebatas kacang
yang lupa kulitnya
Bondan Feat Bunga
Glenn Feat Dewi Sandra
Semakin panjang usia
apa ku orang tersia-sia
Parfum kamar
Tembang rasta
Aku bukan Chairil Anwar
Bukan pula Obama
Taman bunga
Pohon kejora
Aku hanya Reza
Reza apa adanya
Masjid Al Amin
Samping taman
Dan ku yakin
kalian tetap kalian
Orang mesum
Kurang kerjaan
Ayo kita tersenyum
Menyambut Ramadhan
Bunga kota
Kota bunga
Walau senyum kita
tak seindah surya
Legenda taman
babilonia
Jernihkan pikiran
Hati bersih berpuasa
BBF (Bosan Buat Fantun)
Punya teman
Badannya tambun
Aku bosan
Buat pantun
Pulau Bali
Turis memburu
Aneh sekali
Jaman gini gitu
Di kali
Banyak orang tua
Tetapi
Entah kenapa
Buang sampah
Di kota Kediri
Kok malah
Jadi pantun lagi
Bank Mandiri
Di kota Kendari
Pantun lagi
Pantun lagi
Makan pati
Tuk buka puasa
Baru ku sadari
Setelah sekian lama
Beli kawat
Di toko Jaya
Ternyata ku berbakat
Ha ha ha ha ha
Makan blewah
Rasanya nikmat
Tak apalah
Mungkin ada minat
Kota Surabaya
Kota Kediri
Mungkin saja
Esok nanti
Pabrik gula
Pabrik kopi
Ada nama-nama
Seperti ini
Pergi ke mushola
Ketemu Somad
Mungkin saja
Ada Chairil Ahmad
Pulau Madura
Pulau Sulawesi
Mungkin saja
Ada W.S Rizaqi
Monster rawa
Makan buaya
Mungkin saja
Ada Ahmad Hirata
Makan bolu
Sama istri
Mimpiku
Indah sekali
Kota Samarinda
Kota Surakarta
Ayo kita tertawa
Wakakakaka
Badannya tambun
Aku bosan
Buat pantun
Pulau Bali
Turis memburu
Aneh sekali
Jaman gini gitu
Di kali
Banyak orang tua
Tetapi
Entah kenapa
Buang sampah
Di kota Kediri
Kok malah
Jadi pantun lagi
Bank Mandiri
Di kota Kendari
Pantun lagi
Pantun lagi
Makan pati
Tuk buka puasa
Baru ku sadari
Setelah sekian lama
Beli kawat
Di toko Jaya
Ternyata ku berbakat
Ha ha ha ha ha
Makan blewah
Rasanya nikmat
Tak apalah
Mungkin ada minat
Kota Surabaya
Kota Kediri
Mungkin saja
Esok nanti
Pabrik gula
Pabrik kopi
Ada nama-nama
Seperti ini
Pergi ke mushola
Ketemu Somad
Mungkin saja
Ada Chairil Ahmad
Pulau Madura
Pulau Sulawesi
Mungkin saja
Ada W.S Rizaqi
Monster rawa
Makan buaya
Mungkin saja
Ada Ahmad Hirata
Makan bolu
Sama istri
Mimpiku
Indah sekali
Kota Samarinda
Kota Surakarta
Ayo kita tertawa
Wakakakaka
Bukan Diriku
Daging asap
Dari pengepul
Sisi gelap
Diriku muncul
Sayur-sayuran
Dijadikan lalap
Ketika kebusukan
Dunia terungkap
Perang puputan
Di tanah Bali
Ya Tuhan
Apa yang terjadi
Hari buruh
Di Januari
Hati telah keruh
Seperti ini
Kawanan pari
Di laut Aru
Iblis ini
Gerogoti jiwaku
Ayam cemani
Di bawah pohon duku
Pelan tapi pasti
Hatiku telah kelabu
Kantor perikanan
Di kota Kedu
Ini bukan
Diriku yang dulu
Di taman
Ada kumpulan kerbau
Ini bukan
Diriku yang ku mau
Pergi ke lautan
Memburu penyu
Ya Tuhan
Tolonglah aku
Ke selat Bali
Memancing hiu
Jauhkan iblis ini
Dari hatiku
Di Jayapura
Banyak ragam suku
Jangan biarkan dia
Kuasa atas hatiku
Ke kota Delhi
Cari kobra mati
Baru ku sadari
Dia tampakan diri
Kain sutra ungu
Di samping tugu
Dia hitamkan hatiku
Dia gelapkan mataku
Dalam perjalanan
Bertemu ibu
Ya Tuhan
Satu pintaku
Membawa peti
Berisi harta
Bila terus begini
Hanya kan sakiti mereka
Jurang Arizona
Tiada bertepi
Mereka yang di sana
Mereka yang sangat berarti
Biji mangga
Biji blewah
Sebelum semua
Terlambat sudah
Puncak Jayawijaya
Di tanah Papua
Musnahkanlah dia
Sirnakanlah dia
Pabrik tahu
Di kota Kedu
Tolonglah aku
Jernihkan hatiku
Tanah pedalaman
Di pulau Maluku
Ya Tuhan
Beri aku waktu
Naik heli
Sebrangi samudra
Sekali lagi
Tuk ubah segalanya
Rhoma Irama
Manggung di Surabaya
Demi mereka
Yang sangat ku cinta
Kota Bekasih
Tempo dulu
Aku ingin putih
Seperti dulu
Dari pengepul
Sisi gelap
Diriku muncul
Sayur-sayuran
Dijadikan lalap
Ketika kebusukan
Dunia terungkap
Perang puputan
Di tanah Bali
Ya Tuhan
Apa yang terjadi
Hari buruh
Di Januari
Hati telah keruh
Seperti ini
Kawanan pari
Di laut Aru
Iblis ini
Gerogoti jiwaku
Ayam cemani
Di bawah pohon duku
Pelan tapi pasti
Hatiku telah kelabu
Kantor perikanan
Di kota Kedu
Ini bukan
Diriku yang dulu
Di taman
Ada kumpulan kerbau
Ini bukan
Diriku yang ku mau
Pergi ke lautan
Memburu penyu
Ya Tuhan
Tolonglah aku
Ke selat Bali
Memancing hiu
Jauhkan iblis ini
Dari hatiku
Di Jayapura
Banyak ragam suku
Jangan biarkan dia
Kuasa atas hatiku
Ke kota Delhi
Cari kobra mati
Baru ku sadari
Dia tampakan diri
Kain sutra ungu
Di samping tugu
Dia hitamkan hatiku
Dia gelapkan mataku
Dalam perjalanan
Bertemu ibu
Ya Tuhan
Satu pintaku
Membawa peti
Berisi harta
Bila terus begini
Hanya kan sakiti mereka
Jurang Arizona
Tiada bertepi
Mereka yang di sana
Mereka yang sangat berarti
Biji mangga
Biji blewah
Sebelum semua
Terlambat sudah
Puncak Jayawijaya
Di tanah Papua
Musnahkanlah dia
Sirnakanlah dia
Pabrik tahu
Di kota Kedu
Tolonglah aku
Jernihkan hatiku
Tanah pedalaman
Di pulau Maluku
Ya Tuhan
Beri aku waktu
Naik heli
Sebrangi samudra
Sekali lagi
Tuk ubah segalanya
Rhoma Irama
Manggung di Surabaya
Demi mereka
Yang sangat ku cinta
Kota Bekasih
Tempo dulu
Aku ingin putih
Seperti dulu
Untuk Sahabatku Yang Jauh Di sana
Pasang jerat
Di pantai berbatu
Wahai sahabat
Apa kabarmu
Kulit kerbau
Dijahit baju
Bahagiakah kau
Di hidup yang baru
Bangun surau
Di samping gapura
Meski engkau
Telah jauh di sana
Sang perantau
Dari tanah Jawa
Ku harap kau
Baik-baik saja
Kota Minahasa
Di Pulau Sulawesi
Andai kita
Dipertemukan lagi
Daun lebar
Pohon mahoni
Ku ingin dengar
Tawamu lagi
Bulu pekat
Ayam cemani
Ku ingin lihat
Senyumu lagi
Seni pahat batu
Dari Bengkulu
Sangat ku rindu
Akan omelanmu
Tali kawat
Menyusun tugu
Yang membuat
Merah kupingku
Di selat Bali
Ada kawanan hiu
Sangat kunanti
Akan nasehatmu
Atlet angkat berat
Sedang berlaga
Yang membuat
Hati setenang samudra
Suku Asmat
Di Jayapura
Wahai sahabat
Kau jauh di sana
Cahaya silau
Bintang biru
Dapatkah kau
Dengar seruanku
Sawah hijau
Sarang berudu
Sanggupkah kau
Rasakan kerinduanku
Kota Kedu
Kota Pati
Ku ingin bertemu
Sekali lagi
Patih Kediri
Orangnya besi
Sekali lagi
Melihat wajahmu
Ikan pari
Laut nan biru
Sekali lagi
Mendengar marahmu
Masakan Padang
Khas sekali
Bila sekarang
Kau ada di sini
Sang pangeran
Terbang ke kahyangan
Apakah yang kan
Engkau katakan
Batik Krakatau
Warnanya ungu
Akankah kau
Menertawaiku
Raja hebat
Bermahkota batu
Seperti saat
Terakhir bertemu
Peternak Madu
Di kota baru
Bila ku mampu
Kembalikan waktu
Keindahan taman
Dari Semeru
Ku ingin katakan
Satu hal padamu
Pari manta
Ketemu penyu
Ku sangat bahagia
Bersahabat denganmu
Di pantai berbatu
Wahai sahabat
Apa kabarmu
Kulit kerbau
Dijahit baju
Bahagiakah kau
Di hidup yang baru
Bangun surau
Di samping gapura
Meski engkau
Telah jauh di sana
Sang perantau
Dari tanah Jawa
Ku harap kau
Baik-baik saja
Kota Minahasa
Di Pulau Sulawesi
Andai kita
Dipertemukan lagi
Daun lebar
Pohon mahoni
Ku ingin dengar
Tawamu lagi
Bulu pekat
Ayam cemani
Ku ingin lihat
Senyumu lagi
Seni pahat batu
Dari Bengkulu
Sangat ku rindu
Akan omelanmu
Tali kawat
Menyusun tugu
Yang membuat
Merah kupingku
Di selat Bali
Ada kawanan hiu
Sangat kunanti
Akan nasehatmu
Atlet angkat berat
Sedang berlaga
Yang membuat
Hati setenang samudra
Suku Asmat
Di Jayapura
Wahai sahabat
Kau jauh di sana
Cahaya silau
Bintang biru
Dapatkah kau
Dengar seruanku
Sawah hijau
Sarang berudu
Sanggupkah kau
Rasakan kerinduanku
Kota Kedu
Kota Pati
Ku ingin bertemu
Sekali lagi
Patih Kediri
Orangnya besi
Sekali lagi
Melihat wajahmu
Ikan pari
Laut nan biru
Sekali lagi
Mendengar marahmu
Masakan Padang
Khas sekali
Bila sekarang
Kau ada di sini
Sang pangeran
Terbang ke kahyangan
Apakah yang kan
Engkau katakan
Batik Krakatau
Warnanya ungu
Akankah kau
Menertawaiku
Raja hebat
Bermahkota batu
Seperti saat
Terakhir bertemu
Peternak Madu
Di kota baru
Bila ku mampu
Kembalikan waktu
Keindahan taman
Dari Semeru
Ku ingin katakan
Satu hal padamu
Pari manta
Ketemu penyu
Ku sangat bahagia
Bersahabat denganmu
Kamis, 24 Juni 2010
Kembalinya Sang Pangeran
Di taman bunga
Ada burung alap-alap
Telah lama
Kau tertidur lelap
Angin membelai
Daun pohon duku
Kau terbuai
Dalam mimpi indahmu
Kolam pariaman
Sarang Berudu
Ayo Pangeran
Buka matamu
Pengrajin guci
Di kota baru
Bangunlah dari
Mimpi indahmu
Pesta prasmanan
Di tanah Maluku
Berdiri Pangeran
Tunjukan pedangmu
Laut Hindia
Dekat pulau Jawa
Tunjukan pada dunia
Kau masih ada
Pawang kuda
Ketemu buaya
Katakan pada dunia
Kau kan taklukan dunia
Tanah kejayaan
Pantai Amerika
Bangkit Pangeran
Hadapi dunia
Jalan kenangan
Di tepi persawahan
Inilah kenyataan
Inilah kehidupan
Mie rebus
Dari Pakistan
Dunia yang harus
Engkau taklukan
Gorila kesurupan
Baca note ku
Sadar Pangeran
Buka hatimu
Dipanggil gorila
Dia malah tertawa
Kau tak bisa
Bermimpi selamanya
Dia protes padaku
Dipanggil gorila
Waktumu
Telah tiba
Kopi tubruk
Kopi Jawa
Waktu untuk
Merubah segalanya
Dari Padang
Sampai Batanghari
Medan perang
Telah menanti
Tambang intan
Di Jayapura
Semangat Pangeran
Dengan jiwa membara
Peri kahyangan
Turun ke lautan
Inilah peperangan
Yang harus kau menangkan
Di pegunungan
Jalannya berliku
Cepat Pangeran
Angkat jangkar itu
Pohon belantara
Banyak pohon rubuh
Sudah cukup lama
Kapalmu berlabuh
Kota Toraja
Tanah yang sepi
Sudah saatnya
Layar terkembang kembali
Teratai berdaun lebar
Layu ditelan waktu
Saatnya kembali berlayar
Arungi samudra biru
Pohon mahoni
Pohon kapas
Samudra ini
Masih sangat luas
Harum semerbak
Parfum Cibaduyut
Masih banyak
Ikan di laut
Sebuah lukisan
Tentang motif batik
Tersenyumlah Pangeran
Itu kan lebih baik
Ladang tandus
Di bawah langit biru
Impianmu kan hapus
Sakit di masa lalu
Ada burung alap-alap
Telah lama
Kau tertidur lelap
Angin membelai
Daun pohon duku
Kau terbuai
Dalam mimpi indahmu
Kolam pariaman
Sarang Berudu
Ayo Pangeran
Buka matamu
Pengrajin guci
Di kota baru
Bangunlah dari
Mimpi indahmu
Pesta prasmanan
Di tanah Maluku
Berdiri Pangeran
Tunjukan pedangmu
Laut Hindia
Dekat pulau Jawa
Tunjukan pada dunia
Kau masih ada
Pawang kuda
Ketemu buaya
Katakan pada dunia
Kau kan taklukan dunia
Tanah kejayaan
Pantai Amerika
Bangkit Pangeran
Hadapi dunia
Jalan kenangan
Di tepi persawahan
Inilah kenyataan
Inilah kehidupan
Mie rebus
Dari Pakistan
Dunia yang harus
Engkau taklukan
Gorila kesurupan
Baca note ku
Sadar Pangeran
Buka hatimu
Dipanggil gorila
Dia malah tertawa
Kau tak bisa
Bermimpi selamanya
Dia protes padaku
Dipanggil gorila
Waktumu
Telah tiba
Kopi tubruk
Kopi Jawa
Waktu untuk
Merubah segalanya
Dari Padang
Sampai Batanghari
Medan perang
Telah menanti
Tambang intan
Di Jayapura
Semangat Pangeran
Dengan jiwa membara
Peri kahyangan
Turun ke lautan
Inilah peperangan
Yang harus kau menangkan
Di pegunungan
Jalannya berliku
Cepat Pangeran
Angkat jangkar itu
Pohon belantara
Banyak pohon rubuh
Sudah cukup lama
Kapalmu berlabuh
Kota Toraja
Tanah yang sepi
Sudah saatnya
Layar terkembang kembali
Teratai berdaun lebar
Layu ditelan waktu
Saatnya kembali berlayar
Arungi samudra biru
Pohon mahoni
Pohon kapas
Samudra ini
Masih sangat luas
Harum semerbak
Parfum Cibaduyut
Masih banyak
Ikan di laut
Sebuah lukisan
Tentang motif batik
Tersenyumlah Pangeran
Itu kan lebih baik
Ladang tandus
Di bawah langit biru
Impianmu kan hapus
Sakit di masa lalu
Langganan:
Postingan (Atom)